Renata

Rian sedang merayap dibawah mobil,wajahnya penuh cemoreng akibat oli yang menetes. "Njul tolong ambilin kunci ring 22 donk" teriak Rian pada panjul "ngapain pake kunci,biasanya juga pake gigi"ujar panjul sambil mengulurkan kunci yang dimaksud .
"sial lu....." umpat Rian pada temannya itu,Panjul dan beberapa orang di ruangan itu tertawa tergelak,yach begitulah mereka dengan keakraban yang hangat,saling ejek sudah biasa sebagai pewarna kentalnya persahabatan mereka.Sambil bersenda gurau mereka meneruskan rutinitas mereka masing masing hingga seorang gadis cantik datang dan memecah keasyikan sekumpulan sahabat itu.
"kak Rian mana......." tanya gadis itu, "noh....lagi pacaran ma oli kotor" Panjul menimpali,gadis itu melangkah ke tempat Rian sedang asyik dengan kesibukannya,semua mata tertuju pada lengak lengok gadis itu. "kak Rian......" sapa gadis itu,Rian menghentikan pekerjaannya kemudian menoleh pada gadis itu dan tersenyum,
"eh Citra cantik ada apa ?" Rian dengan tatapan jenakanya yang cukup membuat wajah gadis itu bersemu merah,sudah menjadi rahasia umum kalau Citra menaruh hati pada Rian dan itu cukup ntuk dijadikan alasan teman temannya untuk mengolok olok Citra.
"awas non Citra sebentar lagi Rian berubah jadi buaya darat loh" seloroh bang Risman "ho oh tuh....ekornya dah keluar" sambung Panjul di iringi gelak tawa seisi ruangan itu,Rian hanya bisa tersenyum simpul dengan tingkah teman temannya,sedangkan Citra semakin bersemu merah wajahnya.
"hust hust...jangan gangguin orang mau pacaran donk" Rian berkata sambil tersenyum penuh arti pada Citra ,
"cieeeeeeeeeeeeee.........." suara koor tiba tiba memenuhi ruangan itu,setelah segala kegaduhan mereda dan wajah Citra telah kembali pada asalnya semula Rian yang masih dengan tatapan jenakanya bertanya ,
"ada perlu apa Cit ?" Citra tersentak dengan pertanyaan Rian dan tergagap menjawab "eh..eh kak Rian...kak Rian...dipanggil bu Renata" "bu Renata ?" "iya kak,ga' tahu tuh mau ngapain" suara Citra agak berubah,seperti ada cemburu yang menelusup relungnya.
"kamu duluan gih Cit,sepuluh menit lagi aku nyusul" sahut Rian sambil melemparkan senyum termanisnya,Citra beranjak setelah sebelumnya membalas senyum Rian dengan tatapan khas seorang gadis yang kasmaran.
Renata adalah big boss di tempat itu,sosok yang penuh misteri bagi para karyawannya.Sikapnya yang tertutup dan bicaranya yang hanya seperlunya itu seakan menjadi tembok pemisah dengan dunia di sekitarnya,mungkin hanya Citra satu satunya orang yang paling sering berinteraksi dengan Renata,itupun karena Citra adalah sekretaris pribadi Renata.Segala ketertutupan Renata itu yang sedikit banyak mengundang keheranan orang orang di sekitarnya,bahkan ada selentingan yang mengatakan kalau Renata adalah seorang lesbian.Renata bukannya tidak tahu dengan segala rumor yang menyelimuti ketertutupan dirinya tapi Renata lebih memilih diam dan tidak mempedulikan semuanya.
Seperti siang itu,Renata masih saja sibuk dengan dunianya sendiri ketika pintu ruangannya diketuk seseorang ,
"masuk " suara dingin Renata mengiang di ruangan itu,Citra melangkah masuk dan berkata "pak Rian sudah datang bu" "suruh langsung masuk Cit" Renata menjawab tanpa mendongakan wajahnya,Citra tak menjawab dan berlalu ke arah Rian yang tengah menunggu di luar "kak Rian langsung masuk aja,bu Renata udah nunggu tuh" "makasih Cit" Rian melangkah masuk dan kembali memamerkan senyuman magicnya pada Citra.

Hati Rian penuh dengan tanda tanya,gerangan apa yang membuatnya hingga big boss memanggilnya mengahadap seingatnya dia tidak pernah melakukan kesalahan kecuali sering menggoda citra,Renata masih tekun dengan lembaran lembaran file di hadapannya sampai Rian yang beberapa saat berdiri di depannya bersuara "selamat siang bu...."
Renata mendongakan wajahnya dan dengan tatapan dinginya mengamati salah satu karyawannya itu,Rian berusaha untuk setenang mungkin di hadapan Renata sambil membalas tatapan Renata dengan sorot matanya yang katanya magic itu. "siang,silahkan duduk" Renata bersuara "maaf bu,ada apa memanggil saya ?" Renata agak terkejut dengan keberanian Rian,biasanya setiap orang yang berhadapan dengannya di ruangan itu hanya akan diam tanpa berani bersuara sampai dia yang bertanya,tapi orang di hadapannya saat ini benar benar berbeda. "kamu Rian yang di bagian transport itu kan ?" Renata dengan tatapan dinginnya bertanya "benar bu...." "mulai besok kamu saya tugaskan menjadi supir pribadi saya,sementara waktu" tetap dengan nada yang dingin,
"bagaimana dengan pekerjaan saya di bagian transport bu ?" Rian bertanya "kamu saya panggil untuk menerima tugas bukan untuk banyak bertanya" Renata memandang tajam Rian,sepertinya dia tidak suka dengan pertanyaan Rian . "baik bu..."dengan santainya Rian menjawab,tapi dalam hatinya mengumpat kesal "sekarang kamu boleh keluar" Renata menutup pembicaraan siang itu.
Rian meninggalkan ruangan sang big boss dengan tersenyum kecut,ternyata apa yang sering di ceritakan teman temanya tentang Renata benar adanya,baginya Renata seperti sosok patung es bukannya wanita,berbeda dengan Citra yang ceria dan selalu membuatnya tersenyum dengan segala tingkah lakunya.

"lu di apain aja,diomelin ea ?" Panjul bertanya "ga' kok" Rian menjawab sambil terus meneguk minumannya "terus..." Panjul tak sabar ingin mengetahui kenapa sahabatnya itu tadi di suruh menghadap "ni hari terakhir kita sebagai partner Njul" "maksud lu apa,lu di pecat ?,wah keterlaluan si lesbian itu" Panjul sedikit meradang "hei.....Ngapain sewot Njul ?" Rian tersenyum geli karena tingkah Panjul,kemudian dia menjelaskan duduk persoalannya pada sahabatnya itu, "oh gitu......,gue kira lu kena phk" Panjul tersenyum senang "napa Njul girang amat,senyum senyum ga' jelas gitu ?" yang ditanya hanya melebarkan senyumnya,Rian semakin heran dengan tingkah Panjul "kesambet setan kuburan mana Njul ?" Rian meledek temannya itu,Panjul melotot,Rian terbahak,
"kan kalau lu ga ada gue bisa pedekate sama Citra" Panjul berujar,mendengar ucapan Panjul Rian semakin tergelak
"eah sono ambil aja Citra,tapi yang jadi masalah Citra ga suka sama cowok kate" Rian berkata sambil tertawa lepas
"wah....lu jangan gitu donk" Panjul bersungut sungut, "kalem Njul......jangan melotot gitu ntar loncat tuh mata" "eah..kalem kayak ikan nyelem" Panjul menimpali "slow kayak di pulao...." tambah Rian "sante kayak di pante...terus ada cewe bule pake bra doank" Panjul berkata sembari terkekeh "wahh....dasar otak ngeres" Rian tertawa "biarin....namanya juga hidup" Panjul dan Rian tertawa berbarengan,begitulah persahabatan bila tanpa adanya perselisihan. Sore itu Rian bergegas menuju rumah Renata sesuai apa yan disampaikan Citra bahwa dia harus ke rumah si patung es itu,sesampainya di tempat tujuan Rian mendapati sebuah rumah sederhana jauh seperti bayangannya bahwa si patung es itu tinggal di rumah super megah.Rumah yang nampak teduh dengan sebuah taman kecil menghiasi pekarangannya,suasana terasa sangat hangat bertolak belakang dengan sikap si patung es, dalam hati Rian berguman.Rian mengetuk pintu,tak lama berselang seorang wanita paruh baya tergopoh membukaan pintu,Rian tersenyum melihat tingkah wanita itu. "mas Rian ya...?" tanya wanita itu "iya mba',ko tahu sich...peramal ya ?" Rian menjawab jenaka "ya tahu...itu ada namanya"wanita itu menunjuk ke arah kemeja yang dipakai Rian "oh iya ya" Rian baru menyadari bahwa dia masih mengenakan seragam kerjanya "silahkan mas Rian masuk,non Rena sedang mandi" wanita itu mepersilahkan Rian masuk "makasih Mba" rian melangkah masuk,dia dapat merasakan suasana hangat di rumah itu tidak seperti tadi saat di ruangan kerja si patung es.
Pandangan Rian menyapu setiap sudut ruangan itu penuh rasa kagum,penataan ruangnya sangat artistik dan tidak menimbullkan kesan sesak sepertinya penata ruangan itu seorang yang sangat teliti namun bersahaja,dan si patung es tidak memenuhi kriteria tersebut.Masih dengan keasyikannya mengagumi ruangan itu sampai sampai Rian tidak sadar dengan kehadiran si patung es.

"sudah lama nunggunya Rian" selantun suara lembut membuyarkan keasyikan Rian,Rian menoleh ke arah dari mana suara lembut itu berasal dan tatapannya terantuk pada sesosok gadis manis berambut sebahu dengan senyuman menghiasi parasnya,gadis itu terlihat anggun dalam balutan t-shirt biru muda dan celana jeans dan gadis itu tak lain si patung es Renata.
Rian takjub tak percaya dengan apa yang terpampang di hadapannya si patung es benar benar berbeda dengan yang di temuinya siang tadi,tak ada lagi tatapan dingin yang menusuk hati,tak berbekas lagi segala keangkeran si patung es berganti dengan tatapan teduh seorang wanita dewasa dan senyuman tulus selayak milik peri.Renata pun terheran dengan tingkah Rian.
"Rian...Hei..." Renata kembali bersuara "eh maaf bu" Rian tergagap menjawab,Renata kembali tersenyum dan itu semakin membuat Rian terpesona.
"mulai sore ini kamu bertugas" "baik bu" "karena bisa saja saya membutuhkan kamu 24 jam,jadi kamu tinggal saja disini" "baik bu" entah kenapa hanya dua kata itu yang mampu di ucapkan Rian. "sebentar,saya kebelakang dulu" Renata berkata dan beranjak dari hadapan Rian,Rian hanya mampu mengawasi langkah Renata,dia benar benar takjub baginya si patung es telah menjelma menjadi seorang putri salju.
Senja perlahan turun keperaduannya,malam menjelang seiring gelap yang menyelimuti alam.Rian tengah sibuk menata kamar barunya,malam itu untuk pertama kali dia menginap di rumah Si patung es.Disela sela kesibukannya Rian meraih ponsel dan membuka akun Facebooknya,sepertinya dia dapat ilham untuk mengupdate status,sambil senyum senyum sendiri Rian menuliskan 'ternyata si patung es bisa berubah seanggun putri salju'.
Dalam hatinya seakan belum dapat mempercayai dengan apa yang terjadi sore tadi disaat si patung es tiba tiba berubah drastis dan menjadi sangat anggun jauh dari kesan dingin dan angker.Di sudut yang berbeda di rumah itu,Renata masih larut dalam rutinitasnya,dan malam pun semakin larut rembulan yang tinggal separuh terlihat berbinar ditemani gemintang.
"pagi bu" sapa Rian pada Renata,Renata tak menjawab dan hanya mengangguk.Rian terkesiap melihat Renata telah kembali menjelma sebagai patung es. "ayo jalan,nanti terlambat" Renata bersuara dingin "baik bu..." Rian semakin terheran dengan Renata,kenapa tiba tiba keanggunannya yang kemarin telah lenyap tak berbekas,apakah Renata yang kemarin sore hanya alter ego saja ?.

Citra melangkah menghampiri Rian yang berdiri mematung, "hayo.... nglamunin siapa ?" suara Citra yang tiba tiba membuat Rian terlonjak, "ada deh...,mau tahu aja" Rian menjawab sambil tersenyum "kasih tahu donk kak" Citra dengan rengekan yang biasanya "bayar dulu..." Rian berkata sambil mencubit pipi Citra "ahhhhh curang" Citra merajuk "biarin" Rian masih dengan tatapan yang jenaka,tatapan yang membuat Citra makin terpesona.
"ya udah deh kalau kak Rian ga' mau ngasih tahu Citra" Citra beranjak sembari merajuk "ea deh ea,aku kasih tahu" Rian menjawab "sini aku bisikin" tambah Rian,Citra tersenyum dan mendekat pada Rian,tapi Rian justru berlari ke arah kantin sambil meledek Citra.Citra yang sadar kalau dia hanya di bohongi pun berlari mengejar Rian.

Dalam perjalanan pulang sore itu Renata masih dengan jurus patung es,Rian pun hanya terdiam konsentrasinya dipusatkan pada jalanan yang makin ramai.Dua makhluk bernyawa itu hanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing masing,hanya deru mesin mobil yang mereka tumpangi yang menjadi soundtrack perjalanan mereka.
Sesampainya di rumah Renata bergegas menuju kamarnya,dan Rian kemudian melangkah ke arah dapur.
"eh mas Rian baru sampai ea ??" wanita paruh baya yang bekerja sebagai pramuwisma itu menyapa ,
"hu um mba" jawab Rian pendek "mas Rian kenapa toh ??" "ga ko' mba' cuma lagi bingung" "lah...emang ada apa toh ??" wanita paruh baya itu mengeryitkan dahinya tanda tak mengerti,Rian menghela nafas panjang dan berucap, "aku tuh heran sama bu Renata mba'" "heran gimana ??,perasaan non Renata biasa aja" "itu loh mba',Bu Renata ko' kaya punya kepribadian ganda gitu" "maksudnya mas?" wanita paruh baya itu tampak berpikir keras untuk mencerna kata kata Rian,kemudian Rian menceritakan apa yang menjadi keheranannya dengan panjang lebar,wanita paruh baya itu tampaknya mengerti dan tersenyum.
"ko' malah senyum senyum toh mba' ??" "walah mas Rian itu sich sudah biasa,non Renata memang gitu" "ohh......" hanya itu yang keluar dari mulut Rian,benar benar si patung es yang penuh misteri guman Rian dalam hati sambil melangkah pergi.
Ketika Rian hendak menuju kamar tidurnya dia berpapasan dengan si patung es,kali ini si patung es dalam balutan gaun hijau muda yang anggun. "Rian tolong antar saya ke tempat Raya" Renata berkata dengan lembut sambil mengulum senyum,senyum yang telah beberapa hari ini lenyap dari peredarannya. "baik bu" jawab Rian singkat,entah mengapa melihat senyuman Renata tiba tiba dia merasakan seperti ada kekuatan baru yang menelusup,tapi siapakah Raya ?,pertanyaan itu menyeruak dalam hatinya.
Suara penyiar radio yang kocak mengisi perjalanan mereka,Rian hanya senyum senyum mendengar ocehan penyiar favoritnya itu,dan itu tak luput dari pandangan mata Renata "ko' senyum senyum sendiri,inget Citra ea" selidik Renata "ah...enggak kok bu" jawab Rian refleks,dalam hatinya heran kenapa tiba tiba si patung es itu mencair ??.
"tadi saya sempat lihat kalian berdua kejar kejaran loh" sambung Renata "wah....ibu salah lihat mungkin" Rian mencoba berbohong "emm.....gitu ea ?,tadi kayaknya ga salah lihat deh" "he he he" Rian hanya tertawa "tuh ngaku juga" Renata berkata sembari tersenyum,dan senyum itu sempat tertangkap sudut mata Rian.
"maaf bu kalau boleh tahu Raya itu siapa ?" Renata tak menjawab, "maaf bu mungkin saya terlalu lancang" "ga' apa apa ko',nanti juga kamu tahu kalau sudah ketemu" jawab Renata tersenyum penuh misteri,Rian hanya terdiam.

Tempat tujuan mereka ternyata sebuah rumah di pinggiran kota, "kamu tunggu disini,saya cuma sebentar kok" kata Renata "baik bu" Renata melangkah ke rumah itu di ikuti tatapan mata Rian sampai sosoknya menghilang di balik pintu.Rian terpaku dengan sejuta pertanyaan yang menggelayut di benaknya,rasa penasarannya semakin menjadi ingin segera tahu siapakah sebenarnya Raya sehingga Renata menemuinya walaupun hari telah malam.
Apakah Raya itu pacar Renata?,atau.......???????????.

Sekira setengah jam Rian menunggu Renata ditemani sang penyiar radio yang masih setia dengan ocehannya.
"maaf ea jadi nunggu lama" suara lembut Renata mengagetkan Rian "eh...ga' apa apa bu" jawab Rian,tatapan matanya terbentur pada sesosok gadis kecil dengan rambut ikal kecoklatan,matanya yang bulat memandang ke arah Rian dengan polos. "kenalin ini Raya" "Raya ?" ,Rian tampak bingung tak percaya,dan itu tertangkap oleh Renata "kamu pasti berpikir kalau Raya itu cowok kan ?" "he he he,iya bu" Rian menjawab masih dengan kebingungannya "bukan kamu saja yang begitu,hampir semua teman saya berpikir begitu" Renata tersenyum dan senyuman itu semakin membuat Rian bertanya tanya dalam hati.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan itu dalam keheningan.
Malam itu Rian masih terjaga,dalam hatinya masih menerka nerka siapakah sebenarnya Raya dan apa hubungan antara Raya dan Renata ?,dan itu semakin membuat si patung es bernama Renata itu penuh misteri.
Berjuta pertanyaan dan berjuta kemungkinan datang silih berganti menjejali kepala Rian membuatnya sulit untuk memejamkan mata meski rasa kantuk mulai menyerangnya.Di ruangan lain Raya tengah tertidur pulas dalam pelukan Renata yang juga masih terjaga,di belainya rambut Raya dengan lembut seakan khawatir kalau Raya sampai terjaga,namun Raya masih terlelap dengan wajah tersenyum.

"Cit,kamu sudah berapa lama kenal bu Renata" tanya Rian disela sela makan siang mereka "dua tahun,kenapa kak ?" "kamu kenal Raya ?" selidik Rian "Raya yang mana kak ?" citra tak mengerti "yang anak kecil itu" "anak kecil yang mana kak ?" ,
Rian pun menceritakan pertemuannya dengan gadis kecil bernama Raya pada Citra,Citra hanya diam mendengarkan cerita Rian dengan seksama.
"wah....kalau itu Citra ga' tahu kak" "masak sich ga' pernah cerita sama kamu ?" "yee...sama kakak aja yang assistennya ga' cerita kok" seloroh Citra "enak aja assisten" Rian berkata sambil memencet hidung Citra,tiba tiba ponsel Citra berdering.
"siapa Cit ?" "bu Renata" jawab Citra sambil menempelkan telunjuknya di bibir,Rian tersenyum simpul dan meneruskan makan.

Panjul menyambut kedatangan sahabatnya dengan tersenyum lebar,memang sejak Rian dimutasikan oleh Renata mereka jarang sekali berjumpa,padahal biasanya mereka sering bersama dan melakukan banyak hal berdua sudah mirip amplop dan perangko.
Mereka berdua memang telah sejak kecil bersahabat,hal itu di karenakan mereka berasal dari kampung yang sama.Dan sore itu,Rian yang sedang tidak ada tugas dari si patung es memutuskan untuk menemui sahabat karibnya itu di tempat dimana sebelumnya mereka kost bersama.
Rian mengamati keadaan ruangan sempit yang pernah jadi istananya itu,masih dengan ciri khas yang belum berubah masih berantakan seperti kapal pecah,masih kacau balau bagaikan pulau tak bertuan yang baru saja di hantam badai samudera nan dahsyat,Rian tersenyum melihat itu semua ingatannya berputar pada waktu waktu kebersamaanya bersama Panjul di kamar itu,saat mereka harus makan sepiring berdua,saat mereka harus kucing kucingan dengan ibu kost karena telat bayar uang sewa,saat mereka saling menghibur dan menguatkan,dan masih banyak hal hal istimewa yang tak kan pernah mereka lupakan telah terpahat dalam persahabatan mereka,dan andai kamar itu mampu pasti akan menceritakan pada dunia tentang kisah dua sahabat itu.

"napa lu,cengar cengir ga' jelas gitu ?" Panjul memecah lamunan Rian sambil mengulurkan secangkir kopi,Rian tak segera menjawab tapi sagera mengambil kopi yang di ulurkan sahabatnya itu.
"gue lagi flash back Njul" "ce ile bahasa lu tinggi amat" cibir Panjul "kangen gue ma kapal pecah ini" Rian menjawab sambil meneguk kopinya "syukur deh....,gue kira dah lupa lu ma istana kita" Panjul menimpali sambil tersenyum "ga' lah,mana mungkin lupa" "lu masih inget waktu kita kena damprat gara gara telat bayar sewa ga' ?" tanya Panjul "inget.....waktu itu lu kayak tikus kecemplung got" Rian menjawab sambil tertawa "ea....lu sendiri kayak kodok keinjek" Panjul berkata sambil terkekeh,kedua sahabat itu terbahak mengingat kisah mereka sendiri.

Hening sesaat..... "eh Njul gue jadi penasaran sama si patung es" "maksud lu si lesbong Renata,emang kenapa ?" "dia kayak punya alter ego gitu" mimik Rian serius "kepribadian ganda ?" "ho oh,lu tahu sendiri kan dia serem kayak gimana kalau di kantor ?" ,Panjul diam "tapi kalau di rumahnya dia bisa jadi ramah banget,mana cantik banget lagi" Rian menjelaskan
"heeem...,mungkin dia punya rahasia besar kali" Panjul dengan kebiasaan detektifnya berkesimpulan
"bisa jadi,soalnya kemarin gue diajak jemput anak kecil yang ga' tahu siapa" "anaknya kali...." Panjul berujar,Rian diam entah kenapa tiba tiba ucapan Panjul seperti mengganjal pikirannya,apakah Raya benar benar anak Renata ?,tapi apa mungkin bukankah Renata belum menikah ?,berjuta pertanyaan kembali menjejali benak Rian sore itu.
Sementara gerimis turun membasahi dunia,kedua sahabat itu hening tanpa kata seperti sedang berenang pada samudera pikiran mereka masing masing dan hanya desah nafas mereka yang menjadi musik latar kebungkaman mereka.

Renata tersenyum mengawasi Raya yang sedang asyik dengan tingkahnya,Raya seakan tenggelam dalam keceriaanya.Dalam hati Renata menelusup sepercik perasaan bersalah karena dia tak sering bersama Raya,entah berapa banyak waktunya yang habis terbuang dalam rutinitas yang monoton sampai sampai Raya seakan terlupakan,seharusnya Raya mendapatkan perhatian yang lebih darinya selayaknya bocah seusianya tapi Raya seakan mengerti dan bisa memahami keadaan itu,masih saja Raya menyambutnya dengan senyuman paling polos yang dimilikinya setiap kali mereka berjumpa dan semua itu semakin menebalkan perasaan bersalah itu.
Tapi melihat keceriaan Raya sore itu Renata sedikit terlipur,baginya Raya adalah harta tersempurna yang di anugerahkan Tuhan padanya.Disaat Renata tengah larut dalam perasaannya yang mengharu biru,tiba tiba gerimis bertamu.Di hampirinya Raya dan tuntun mencari tempat berteduh.

Dua sahabat itu sedang asyik ngobrol sampai ponsel Rian menyalak memberi tahukan sebuah pesan masuk,
"Njul...tolong ambilin hp gue di saku jaket donk" pinta Rian sambil menunjuk ke arah jaketnya ,
"kebiasaan lu...,ngrepotin mulu" sembur Panjul "mumpung masih hidup" sahut Rian sekenanya,Rian membaca pesan yang tampil pada layar ponselnya di amati panjul
"waduh......panggilan tugas nih" "siapa ?" tanya Panjul heran,bukannya hari ini libur "emergency....Renata minta jemput" "dimana...gerimis gini ?" "di taman deket sini,makanya emergency soalnya gerimis" "lu pake motor gue aja" Panjul berkata seraya mengulurkan kontak motornya "thanks Njul,jadi ngrepotin lagi" "mumpung masih hidup" sahut Panjul tersenyum lebar "yupy...." Rian menimpali ucapan sahabatnya,kemudian meraih jaketnya dan bergegas pergi di ikuti pandangan panjul.
Raya berlari ke arah Rian tanpa mempedulikan gerimis yang masih mengguyur bumi,Renata pun tak kuasa mencegah Raya.Rian tersenyum melihat tingkah Raya seraya menyongsong tubuh kecil yang berlari ke arahnya,sementara Renata hanya terheran melihat tingkah Raya padahal baru beberapa hari mengenal Rian.
Raya tersenyum dalam gendongan Rian,di bawanya tubuh mungil Raya menuju ke tempat Renata yang sedang berteduh. "Raya.....ayo turun" bujuk renata,tapi Raya malah semakin erat memeluk tubuh Rian entah apa yang di rasakan Raya terhadap kehadiran Rian. "biar bu....,ga apa apa kok" jawab Rian sambil memamerkan senyumnya,Renata yang telah kehabisan akal untuk membujuk Raya akhirnya menyerah dan tetap mambiarkan Raya dalam gendongan Rian,tanpa sengaja pandangan Renata terantuk pada tatapan Rian,ada getar aneh yang menelusup relung hatinya dan Renata sendiri pun tak dapat menterjemahkan getaran itu.
Gerimis masih menunjukan pongahnya sore itu dan itu memaksakan mereka bertiga untuk tetap berteduh,Raya tertidur dalam dekapan Rian sementara Rian tengah mencoba mencerna arti tatapan Renata yang tadi sempat di dapatinya.Entah berapa lama keheningan tercipta di tempat itu dan hanya kesiur angin yang menyertai hadirnya sang hujan.
Gerimis yang sempat reda sejenak kembali merajai alam,Rian tengah bergelut dengan hatinya yang sedari tadi berjuang untuk mencerna arti tatapan Renata yang sempat beradu dengan tatapannya sore tadi.
Entah kenapa dia merasakan ada sesuatu yang tersembunyi dibalik tatapan mata Renata,tatapan itu terasa begitu dalam dan tak seperti biasanya,tapi semakin kuat dia mencoba menerka arti tatapan itu semakin saja terasa samar seakan ada sehelai tabir yang menghalangi.
Malam merangkak dengan pasti di sertai rinai gerimis yang masih saja menunjukan angkuhnya,tapi tetap saja Rian tak dapat memejamkan matanya walau sejuta cara telah di lakukan untuk berdamai dengan perasaannya sendiri yang tetap saja terbayang pada si patung es,dan andai kamar itu dapat berkata pasti telah sejak tadi mengejek Rian.ketika hampir saja matanya hendak terpejam tiba tiba pintu kamarnya diketuk dengan irama yang tak beraturan,Rian sontak kaget dan memaki dalam hati,lalu melangkah enggan membuka pintu. Wanita paruh baya yang biasa di panggil mba' Asih tampak ketika Pintu telah terbuka wajahnya nampak cemas,Rian yang tadi sempat dongkol mengeryitkan kening keheranan. "Ma...maaf Mas saya ganggu malam malam" Mba' Asih berkata terbata "ada apaan sich mba',ko' kayaknya cemas gitu ?" "anu....anu....Raya mas..." "Raya kenapa mba' ?" Rian tersenyum geli melihat tingkah wanita itu "Raya demam mas,saya di suruh non Renata manggil mas Rian" "demam?" "iya mas panasnya tinggi banget" Rian langsung bergegas ke kamar Renata di ikuti mba Asih dengan langkah tergopoh.

Semilir angin malam ditambah rinai gerimis yang menjajah malam itu seakan tak mau berhenti menghiasi alam,Rian mengemudikan mobilnya tanpa berkata sampai dokter setengah baya itu memecah keheningan.
"mas Rian kayaknya dekat banget ya sama Raya ?" "ah..ga' juga dok..." "tapi menurut saya mas Rian pantes deh jadi bapaknya Raya" "emangnya Raya ga' punya bapak dok ?" tanya Rian sedikit heran "loh......mas Rian belum tahu ya?" sekarang giliran dokter itu yg terheran "wahhh....saya belum tahu tuh dok,ada apa sebenarnya?" dokter itu kemudian menceritakan semua tentang Renata dan Raya pada Rian,Rian hanya diam seakan takjub dengan penuturan dokter itu padanya,terjawablah semua teka teki yang selama ini menyelimuti Renata. "emang mas Rian ga' tertarik ea sama Renata ?" pertanyaan dokter itu seakan menghujam tepat di jantung Rian,
"dia cantik loh mas..." sambung dokter itu ,Rian bersemu merah wajanhya dan untung suasana mobil itu remang jadi perubahan air muka Rian tak sampai terlihat,namum kebungkaman Rian telah membuat Dokter setengah baya itu mengerti apa yang ada di benak Rian karena biar bagaimanapun di juga pernah muda.
Laju mobil itu semakin perlahan dan tak lama kemudian berhenti sama sekali,sang dokter beranjak turun sembari mengucapkan terima kasih pada Rian dan berbisik...
"pikirkan ucapan saya tadi mas.....Raya membutuhkan sosok ayah" "dan saya melihat itu ada di mas Rian,lagipula Renata itu masih virgin loh....apa ga' minat ?" dokter itu tersenyum setelah mengakhiri ucapannya sementara Rian hanya tersenyum simpul,mana ada wanita yang sudah pernah melahirkan masih Virgin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please coment + kritik,ataupun sarannya,,,,,makasih.